Skizofrenia, Gangguan Mental yang Mengancam Kehidupan

skizofrenia-gangguan-mental

Skizofrenia menjadi salah satu gangguan mental yang seringkali terjadi di Indonesia. Seseorang yang menderita skizofrenia tidak bisa membedakan kenyataan dan khayalan, akibat ada banyak halusinasi yang timbul dalam pikirannya. Mereka seakan hidup dengan bisikan-bisikan atau suatu gambaran dari hal lain yang mengganggu kehidupannya.

Gangguan skizofrenia dapat ditandai dengan adanya karakteristik yang kacau dari pola pikir, perilaku sosial, proses sosial, serta afeksi. Umumnya, gejala yang timbul dari skizofrenia berupa timbulnya halusinasi atau delusi, kehilangan motivasi, menarik diri dari kehidupan sosial, dan lainnya.

Penyakit gangguan mental ini mesti melakukan pemeriksaan serta perawatan dari dokter spesialis kejiwaan alias psikiater. Tak lupa, dukungan keluarga untuk terus memberikan motivasi sangat penting bagi para penderita skizofrenia tersebut.

Gejala Skizofrenia

Riset yang dilakukan oleh Psikolog islamedia Jurnal Psikologi, mengungkapkan bahwa gejala utama yang sering muncul pada penderita skizofrenia adalah 4A. Di antaranya Asosiasi, Ambivalensi, Avek, serta Autisme.

Asosiasi merupakan hubungan dimana antar pikiran menjadi terganggu alias mengalami asosiasi yang longgar. Lalu, Afek seringkali disebut sebagai suatu respon emosional yang berubah menjadi datar alias tidak sesuai.

Sementara itu, Ambivalensi merupakan suatu keadaan dimana seorang individu memiliki perasaan ambivalen, yaitu merasa benci sekaligus cinta. Lalu, ada autisme yang merupakan suatu bentuk penarikan diri ke dalam dunia fantasi dan tidak terikat oleh prinsip logika apapun.

Biasanya, penderita yang memiliki gejala di atas akan memiliki obsesi terhadap kematian, kekerasaan, maupun sekarat. Bahkan, mereka seringkali mengucapkan kata-kata perpisahan yang tidak biasa akibat merasa putus asa.

Penderita skizofrenia seringkali mengalami delusi atau suatu kondisi dimana dirinya memiliki keyakinan terhadap hal-hal yang tak masuk akal. Misalnya, ia yakin bahwa ada orang lain yang dapat membaca pikirannya, atau mengetahui bahwa ada orang yang memiliki rencana untuk menyakiti dirinya.

Lalu, seorang penderita yang mengalami gejala berat biasanya ditandai dengan kesulitan untuk membedakan kenyataan dan halusinasi. Bahkan, ia terjebak dalam fantasi yang ada dalam dirinya, hingga sering marah dan mengamuk kepada orang-orang disekitarnya.

skizofrenia-gangguan-mental

Data Kasus Skizofrenia di Indonesia

Pada tahun 2017, prevelensi penderita skizofrenia di Indonesia diperkirakan mencapai angka 0,3 hingga 1% dan terjadi pada usia 18 sampai 45 tahun. Kemudian, pada tahun 2018, Riskesdas mengungkapkan bahwa terjadi peningkatan yang signifikan, yaitu sebanyak 1,7 jiwa dari tahun 2013 sampai 2018.

Jumlah angka kasus skizofrenia di Indonesia memang selalu meningkat setiap tahunnya. Bahkan, pada tahun 2019 sampai 2021 sekarang, penderita skizofrenia semakin mengalami peningkatan. Hal ini dikarenakan pada masa pandemi, orang-orang dengan gangguan mental itu lebih mengalami depresi dan faktor lainnya.

Meskipun begitu, penderita skizofrenia masih bisa disembuhkan dengan bantuan pihak medis, keluarga, serta teman terdekat. Berikan dukungan serta motivasi bagi mereka agar bisa menjalani kehidupannya dengan baik.

Dari beberapa penelitian, hal ini ternyata memberikan hasil positif, dimana ada banyak penderita skizofrenia yang akhirnya bisa berkomunikasi dengan banyak orang secara normal.

Sayangnya, sekitar 14,3% penderita skizofrenia di Indonesia masih belum mendapatkan perawatan memadai. Mereka selalu dipasung oleh keluarganya sendiri karena belum mengetahui lebih dalam terkait penyakit kejiwaan tersebut.

Demikian informasi mengenai penyakit gangguan mental skizofrenia yang masih terdapat di Indonesia. Jika ada keluarga atau tetangga yang mengalami penyakit ini, jangan sampai Anda hindari dan jauhi. Berikan motivasi dan semangat bahwa mereka bisa sembuh dan menjalani kehidupan dengan normal.

You May Also Like