Kenali 4 Jenis Disleksia dan Gejalanya

Menurut International Dyslexia Association (IDA), disleksia adalah suatu kondisi yang mempengaruhi sebanyak 15-20 persen populasi. Ini merupakan suatu kondisi ketidakmampuan untuk belajar berbasis bahasa yang melibatkan banyak gejala berbeda.

Gejala disleksia bervariasi tergantung pada usia. Bagi beberapa anak, biasanya mengalami keterlambatan bicara, kesulitan mempelajari kata-kata baru, dan kesulitan dengan permainan berima. Gejala-gejala disleksia ini dan lainnya sering menjadi lebih jelas begitu seorang anak mulai sekolah.

Anak dengan kondisi tersebut telat membaca pada usia mereka karena kesulitan membentuk kalimat dan menemukan kata-kata yang tepat. Dengan ketidakmampuan tersebut, mereka kerap mengeluarkan kata atau mengucapkan sesuatu yang tidak dimengerti, sehingga beberapa anak menghindari kegiatan membaca dengan keras.

“Jika tidak ditangani, disleksia dapat memengaruhi kemampuan dan potensi mereka di tempat kerja atau sekolah,” kata Kimberly R. Freeman, Ketua Eksekutif Department of Social Work and Social Ecology di Universitas Loma Linda di San Bernardino, California, dikutip dari Everyday Health.

Meskipun kondisi ini tidak dapat disembuhkan, namun masalah tersebut dapat dihadapi dengan perawatan, tergantung pada jenis disleksia yang dialami. Tidak ada lembaga yang membuat daftar resmi jenis disleksia, namun yang setuju bahwa ada 4 jenis yang paling umum ditemui, sebagai berikut:

1. Phonological Dyslexia

Beberapa orang dengan disleksia mungkin mengalami kesulitan dengan kesadaran fonemik, yang merupakan kemampuan untuk mengenali suara huruf individu dalam sebuah kata dan kemudian menggabungkan suara-suara itu menjadi sebuah kata. Selain itu, mereka juga mengalami kesulitan untuk memecah kata menjadi suku kata, dan untuk menghubungkan huruf dan kata dengan suara yang sesuai.

2. Surface Dyslexia

Disleksia permukaan dideskripsikan sebagai ketidakmampuan membaca kata-kata yang dieja secara berbeda dari cara pengucapannya. Disleksia ini terkadang disebut juga sebagai disleksia visual karena individu dengan kondisi ini mengalami kesulitan mengenali kata-kata dengan penglihatan.

Penting untuk diingat bahwa disleksia biasanya tidak melibatkan masalah dengan penglihatan atau penglihatan. Itu disebabkan oleh perbedaan cara otak seseorang mengenali huruf, angka, dan kata-kata.

Penting juga untuk dicatat bahwa masalah dengan penglihatan kadang-kadang dapat meniru disleksia, sehingga spesialis dan dokter akan mengesampingkan sejumlah faktor lain sebelum membuat diagnosis disleksia.

3. Rapid Naming Deficit

Bagi mereka yang memiliki kondisi dengan jenis disleksia ini, pengenalan huruf dan angka tidak terjadi dengan cepat. Mungkin dibutuhkan waktu lebih lama bagi otaknya untuk memproses informasi, yang dapat menyebabkan waktu membaca lebih lambat.

4. Double Deficit Dyslexia

Tidak jarang seseorang mengalami lebih dari satu jenis disleksia. Dua jenis yang sering muncul bersama adalah phonological dyslexia dan Rapid Naming Deficit. Ketika seseorang memiliki keduanya, itu dikenal sebagai double deficit dyslexia.

Kelainan belajar lain dengan disleksia

Ada beberapa ketidakmampuan belajar yang mungkin terjadi dengan disleksia yang bukan disleksia. Misalnya, seseorang dapat didiagnosis menderita disleksia, tetapi juga memiliki:

Disleksia matematika

Kondisi ini sebenarnya disebut sebagai dyscalculia, yang terjadi ketika seseorang memiliki kesulitan menghitung angka. Dyscalculia mungkin muncul pada seseorang dengan disleksia, tetapi itu bukan suatu bentuk atau bagian dari disleksia sendiri.

Gangguan ini mempengaruhi sekitar 3 hingga 6 persen anak-anak. Gejala dapat bervariasi, tetapi dalam banyak kasus seseorang mungkin mengalami kesulitan mengingat dan mengatur angka, atau mereka mungkin mengalami kesulitan dalam menentukan waktu.

Seperti halnya disleksia, individu mungkin menghindari situasi di mana matematika mungkin terlibat. Gejala lain yang bisa terlihat, di antaranya kesulitan dalam beberapa hal, seperti masalah kata, mengatur angka, mengelola uang, memahami kuantitas, memahami nilai-nilai positif dan negatif, memahami waktu serta diagram dan grafik.

Mengenali gejala dyscalculia bisa sulit karena banyak anak-anak dan orang dewasa mengalami kesulitan dengan matematika. Tetapi sebagai orang tua atau guru, ada tanda-tanda khusus yang dapat Anda cari tergantung pada usia anak.

Sebagai contoh, seorang anak prasekolah yang memiliki gejala dyscalculia mungkin mengalami kesulitan berhitung, atau mereka mungkin tidak memahami konsep berhitung.

Misalnya, seorang anak mungkin mengalami kesulitan memahami konsep bahwa 2 + 2 = 4. Atau anak yang lebih besar atau remaja mungkin masih menggunakan jari mereka untuk menghitung ketika mencari tahu soal matematika sederhana seperti di atas.

Para ilmuwan masih berusaha untuk menentukan apa yang menyebabkan gangguan ini, tetapi beberapa penelitian menunjukkan bahwa setidaknya dalam beberapa kasus, mereka mungkin berasal dari neurologis.

Disleksia menulis

Seseorang dengan disgrafia memiliki tulisan tangan yang dapat menampilkan beberapa penyimpangan, seperti jarak huruf dan kata yang tidak konsisten, kata serta kalimat yang hilang atau dialihkan, ejaan aneh, huruf atau ukurannya berbeda, menulis sesuatu yang tidak terbaca.

Sumber: www.haibunda.com/parenting/20200522181244-60-142358/4-jenis-disleksia-ketahui-bedanya-yuk-bunda

Next Post

No more post

You May Also Like